Makna Lagu Kebangsaan

Setibendera-merah-putihap negara mempunyai lagu kebangsaan masing-masing, tidak ada dua negara yang memiliki lagu kebangsaan yang sama, karena lagu kebangsaan adalah ekspresi kejiwaan dari suatu bangsa. Lagu kebangsaaan menempati kedudukan yang khusus dan dihormati oleh seluruh rakyatnya. Lagu kebangsaan selalu dinyanyikan atau diperdengarkan pada setiap acara resmi kenegaraan, dan juga pada setiap acara di luar negeri yang membawa nama negara.

Lagu “Indonesia Raya” ciptaan W.R. Supratman, merupakan lagu kebangsaan bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagai sebuah lagu yang dihormati dan dibanggakan, pembangkit semangat kebangsaan, dan terasa ada kesyahduan yang luar biasa dalam penjiwaannya.

Pada jaman penjajahan, pihak penjajah melarang rakyat menyanyikan lagu ini, tapi rakyat mengabaikannya, dan tetap menyanyikannya, sehingga bertambah jiwa nasionalisme, rasa kebangsaan, rasa senasib sepenanggungan, dan rasa seperjuangan, serta semakin memperkokoh persatuan dalam melawan penjajahan.

Sekarang, banyak warga dan banyak para siswa/pelajar yang tidak memperlihatkan sikap hormat secara fisik, ketika menyanyikan atau mendengarkan lagu Indonesia Raya. (kalau hanya menghormati dalam hati tentu tidak nyata dan tidak terlihat). Kenyataan ini menunjukkan bahwa pendidikan kurang memberikan bobot tentang materi nasionalisme, kurang menanamkan jiwa kebangsaan, kurang melatih membiasakan diri untuk bersikap menghormati lambang-lambang negara, sehingga mereka kurang bangga memiliki bangsa yang merdeka dan kurang bangga memiliki lagu kebangsaan. Padahal pendidikan di Indonesia, sejak awal kemerdekaan menganut paham ajaran Ki Hajardewantara yang sarat dengan nilai-nilai perjuangan dan nilai-nilai nasionalisme.

Kehilangan arti dan makna dari lagu kebangsaan pada sebagian besar warga negara dalam waktu yang lama, bisa berakibat memperlemah jiwa kebangsaan, dan menurunnya rasa berbangsa dan bernegara. Hal ini ditandai dengan :
1. Ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan, mereka tidak lagi merasakannya sebagai suatu lagu yang khusus sifatnya, tapi merasakannya sama seperti lagu lainnya. (Padahal lagu lainnya sedikit yang berjiwa kebangsaan)

2. Mereka lebih berminat dan lebih tertarik dengan lagu-lagu populer lainnya, termasuk mengidolakan para artis terkenalnya, sehingga lagu kebangsaan menjadi semakin kurang diperhatikan dan kurang diminati. (Adapun mereka yang tidak bisa menyanyikannya bukan berarti kurang perhatiannya, tapi itu adalah masalah latihan dan bakat seseorang, ada orang yang harus berlatih lama sekali, baru mampu menyanyikannya)

3. Ketika mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya pada suatu acara, mereka hanya ikut-ikutan, atau ada rasa keterpaksaan, seharusnya keinginan menyanyikannya timbul dari dorongan kemauan yang kuat dari hati sendiri. (Apalagi jika yang memimpin lagu adalah orang/kelompok yang kurang simpatik, menjadi semakin kurang menarik)

4. Keadaan akan semakin buruk, jika ada anggapan bahwa menyanyikan lagu kebangsaan hanya membuang waktu, atau dianggap tidak perlu lagi, karena keadaan kita sekarang sudah merdeka. (Ini adalah anggapan yang keliru, karena mereka tidak mengerti tentang isi dan makna dari lagu kebangsaan itu sendiri).

5. Keadaan akan sangat buruk bagi lemahnya jiwa kebangsaan dan rendahnya rasa berbangsa dan bernegara pada sebagian besar warga negara, jika pada semua acara/kegiatan yang bersifat kebangsaan dan kenegaraan, tidak dikumandangkan lagu Indonesia Raya. Walaupun kegiatan itu hanya setingkat RT/RW, apalagi tingkat departemen/instansi pemerintah. (Apakah dirasakan sudah sangat cukup, jika hanya setahun sekali menyanyikannya? Dan itupun hanya sekedar jadi tontonan yang berulang-ulang setiap tahun?)

Lemahnya nasionalisme pada sebagian bersar warga negara, akan berdampak pada kewibawaan negara yang semakin jatuh, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Jangan dikira bahwa dampak ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan rendahnya kinerja, pelayanan yang tidak maksimal pada semua departemen/instansi/ badan-badan dan lain-lain.

Upaya untuk menaikkan kewibawaan negara di dalam dan di luar negeri, tentu dengan menguatkan nasionalisme dan meningkatkan prestasi di semua bidang, sebab kalau menjaga kewibawaan negara melalui kekuasaan dan kekuatan akan berdampak munculnya “tudingan” bahwa negara melanggar HAM. Padahal negara lain ada yang sudah/pernah melanggar HAM, tapi mereka pura-pura tidak tahu, pura-pura pilon atau pura-pura “bersih” dan tidak pernah melanggar HAM sekecil apapun.

Setiap kalimat dan bait pada lagu Indonesia Raya, mempunyai arti dan makna, terdapat 12 item, sebagai berikut :

  1. Indonesia Tanah Airku, kalimat ini menanamkan kesadaran,
    a. Bahwa setiap warga memiliki tanah air yaitu Indonesia,
    b. Bahwa setiap warga memilik hak dan kewajiban terhadap tanah airnya.
    c. Bahwa setiap warga mengaktualisasikan dirinya dalam upaya merealisasikan makna sumpah pemuda.
  2. Tanah tumpah darahku, kalimat ini menanamkan kesadaran,
    a. Bahwa setiap warga telah memiliki wadah/ruang/tempat, yaitu di tanah yang termasuk wilayah Indonesia.
    b. Bahwa Tanah Air Indonesia adalah tempat untuk berusaha, berjuang, dan berdarma bakti dengan kerja keras membanting tulang, menguras keringat dan air mata, sampai menumpahkan darah.
  3. Disanalah aku berdiri, kalimat ini menanamkan kesadaran,
    a. Bahwa setiap warga telah berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa lainnya,
    b. Bahwa di tanah air Indonesia kita semua memiliki derajat yang sama dengan bangsa lainnya di dunia ini.
  4. Jadi pandu ibuku, kata ibuku maksudnya adalah ibu pertiwi atau pemerintahan yang sah. Kalimat ini menanamkan kesadaran,
    a. Bahwa pemerintahan yang sah, mempunyai tanggung jawab yang sangat besar dalam berperan menjadi pandu/penuntun/pembimbing bagi semua warga negaranya untuk meningkatkan kesejahteraan semua warganya;
    b. Bahwa sikap setiap warga terhadap ibu pertiwi harus bersikap sama seperti sikapnya terhadap ibu kandung/orang tua.
  5. Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan tanah airku, kedua kalimat ini menanamkan kesadaran,
    a. Bahwa setiap warga memiliki kebangsaan yaitu berbangsa Indonesia, berkewarganegaraan Indonesia.
    b. Bahwa setiap warga bersikap tegas dalam pengakuannya berkebangsaan Indonesia dan bertanah air Indonesia.
  6. Marilah kita berseru, Indonesia bersatu, kedua kalimat ini menanamkan kesadaran,
    a. Bahwa setiap warga berseru, bersikap dan berusaha membina persatuan dan kesatuan Indonesia agar Indonesia benar-benar bersatu, baik melalui sikap, kata, tingkahlaku dan perbuatan sehari-hari.
    b. Bahwa setiap warga berusaha sedapat mungkin menjauhkan semua hal yang dapat memecah belah Indonesia.
  7. Hiduplah tanahku, Hiduplah negeriku, Bangsaku rakyatku, Semuanya, bait ini terdiri dari empat kalimat menanamkan kesadaran,
    a. Bahwa setiap warga selalu berusaha agar Indonesia menjadi tanah air yang hidup untuk waktu yang tidak terbatas.
    b. Bahwa setiap warga, setiap rakyat , semuanya, harus menjadi penduduk yang benar-benar hidup, benar-benar dinami dan kreatif untuk merubah keadaan, agar keadaan selalu berubah menjadi lebih baik
    c. Bahwa semua rakyat, semua warga berusaha agar jangan sampai rakyat mati dan berusaha agar Indonesia jangan sampai mati, punah atau bubar.
  8. Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya, kedua kalimat ini menanamkan kesadaran,                               a. Bahwa setiap warga lebih mengutamakan dalam berusaha membangun jiwa kebangsaan, ruh nasionalisme, semangat berbangsa dan bernegara, mental spiritual dengan sangat prima, dan menjadi prioritas utama.           b. Bahwa setiap warga juga membangun badannya, melaksanakan pembangunan fisik dengan sangat maksimal untuk kesejahteraan lahir batin.
  9. Untuk Indonesia Raya, kalimat ini menanamkan kesadaran,
    a. Bahwa setiap warga dalam berusaha disemua bidang, harus merupakan bagian kegiatan yang integral dalam suatu strategi besar untuk pembangunan Indonesia seutuhnya,
    b. Bahwa semua warga dalam melaksanakan usahanya dalam bidang apapun harus maju bersama, berjalan seiring menuju Indonesia Raya, harus saling bersinergi, dan harus diupayakan tidak boleh ada yang saling menghambat.
  10. Indonesia Raya merdeka merdeka, dalam kalimat ini kata merdeka diucapkan dua kali, menanamkan kesadaran,
    a. Bahwa seluruh wilayah Indonesia harus benar-benar merdeka, tidak ada lagi penjajahan, penyerobotan dari pihak asing, tidak ada penguasaan daerah oleh pihak asing.
    b. Bahwa setiap warga harus berusaha untuk tidak ada lagi penjajahan di seluruh wilayah Indonesia dalam bentuk apapun, dalam bidang apapun.
  11. Tanahku negeriku yang kucinta, kalimat ini menanamkan kesadaran,
    Bahwa setiap warga dalam semua usahanya untuk berprestasi, berproduksi, berkreasi, berinovasi berdasarkan atas cintanya kepada negerinya dan tanah airnya.
  12. Hiduplah Indonesia Raya, kalimat ini menanamkan kesadaran
    Bahwa cita-cita tertinggi dari setiap warga adalah Indonesia mampu berjuang hidup untuk waktu yang tidak terbatas, mampu bersaing dalam globalisasi internasional di semua bidang. Dan Indonesia hidup terus menjadi negara yang besar dan menjadi negara yang disenangi dunia internasional.

    Sumber : https://jenahudin.wordpress.com/2009/02/21/makna-lagu-kebangsaan/

36 BUTIR-BUTIR PENGAMALAN PANCASILA/EKA PRASETIA PANCA KARSA

Ketetapan MPR no. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa menjabarkan kelima asas dalam Pancasila menjadi 36 butir pengamalan sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila.

A. SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA
Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

B. SILA KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
Saling mencintai sesama manusia.
Mengembangkan sikap tenggang rasa.
Tidak semena-mena terhadap orang lain.
Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
Berani membela kebenaran dan keadilan.
Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

C. SILA PERSATUAN INDONESIA
Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
Cinta Tanah Air dan Bangsa.
Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia.
Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

D. SILA KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN
Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan.
Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah.
Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

E. SILA KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.
Bersikap adil.
Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Menghormati hak-hak orang lain.
Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
Tidak bersifat boros.
Tidak bergaya hidup mewah.
Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
Suka bekerja keras.
Menghargai hasil karya orang lain.
Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
Ketetapan ini kemudian dicabut dengan Tap MPR no. I/MPR/2003 dengan 45 butir Pancasila. Tidak pernah dipublikasikan kajian mengenai apakah butir-butir ini benar-benar diamalkan dalam keseharian warga Indonesia.

**************************

SILA PERTAMA (Bintang).
– Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
– Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
– Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
– Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
– Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
– Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
– Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

SILA KEDUA (Rantai).
– Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
– Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
– Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
– Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
– Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
– Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
– Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
– Berani membela kebenaran dan keadilan.
– Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
– Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

SILA KETIGA (Pohon Beringin).
– Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
– Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
– Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
– Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
– Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
– Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
– Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

SILA KEEMPAT (Kepala Banteng).
– Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
– Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
– Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
– Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
– Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
– Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
– Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
– Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
– Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
– Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

SILA KELIMA (Padi Dan Kapas).
– Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
– Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
– Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
– Menghormati hak orang lain.
– Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
– Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
– Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
– Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
– Suka bekerja keras.
– Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
– Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Cinta, Kasih, dan Sayang

Cinta hanyalah tentang rasa suka, keinginan untuk menyukai dan disukai. Sedangkan kasih dan sayang adalah tentang kepedulian dan toleransi.

Sehingga, cinta itu cenderung egois, sedangkan kasih dan sayang condong pada altruis (mengalah)

Cinta itu memberi dan mengharap kembali. Sedangkan kasih dan sayang adalah memberi tiada mengharap imbalan.

“Aku mencintaimu” = ada kembalian yang ia harapkan. Pengakuan, kepuasan, dan kemenangan bagi si pencinta.

Sementara, “Aku menyayangimu” atau “Aku mengasihmu” = si pengasih dan penyayang tak mengharap apapun bagi dirinya. Allah, rasul, orang tua, dan pemimpin yg adil.

Memberi, memberi, dan menerima. Itu bukan cinta, itulah kasih sayang.

Memberi, meminta, dan menerima. Itulah cinta.

Karena kasih dan sayang lebih indah dari cinta, tidak buta, tidak meminta, tidak pula dipinta.

Cinta itu api. Sedangkan kasih dan sayang adalah air, udara, dan tanah. Maka, cinta itu panas, mendidihkan air, membakar udara, dan menghancurkan tanah. Sedangkan kasih dan sayang memadamkan api. Sejuk, segar, dan tenang.

Dengan cinta, manusia, binatang, dan jin akan terselubung panas dan mendidih (nafsu). Sedangkan dengan kasih sayang, manusia, binatang, dan jin akan senantiasa terselimuti kedamaian, kesegaran, dan keindahan dalam hidup.

Tebarkanlah kasih dan sayang pada semua orang dan seluruh alam. Tapi jangan titipkan cinta pada setiap orang dan seisi alam.

Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

***

Ditekankan pada aspek horizontal saja, karena apapun tentang makhluk tidak pantas dinisbahkan pada kholiq.

Menjadi (Manusia) Dji Sam Soe

Dji Sam Soe, sebuah nama yang terdengar sangat familiar di telinga perokok Indonesia, bahkan bagi sebagian pencinta kretek, rokok yang dibalut bungkus kertas hijau dengan simbol angka 234 adalah salah satu Mahakarya Indonesiadari putera Indonesia kelahiran Provinsi Fujian, Cina bernama Liem Seeng Tee yang diciptakan pada tahun 1913 di Surbaya yang sampai saat ini diproduksi oleh PT. HM Sampoerna Tbk.
Disini saya tidak akan membawa kawan-kawan pembaca untuk bersama-sama menikmati ramuan khas dari kretek Dji Sam Soe, namun saya akan sedikit mengupas hal-ihwal simbol-simbol yang ada pada produk 234 itu.
Kata DJI SAM SOE memiliki 3 suku kata dan masing-masing terdiri dari 3 huruf. DJI (3) SAM (3) dan SOE (3) jika dijumlahkan kesemua huruf-nya akan berjumlah 9. Kemudian, jika pembaca sekalian lupa, coba sesekali menjadi iseng untuk menghitung jumlah bintang yang tertabur dalam logo tersebut, maka akan ditemui 9 bintang dengan masing-masing bintang memiliki 9 sudut.
Kita juga akan temukan keunikan dari PT. HM Sampoerna Tbk. Perhatikan pada kata: S-A-M-P-O-E-R-N-A. Dan lagi-lagi dapat kita temukan jumlah huruf dari kata SAMPOERNA ada 9 huruf. Tidak hanya itu, perhatikan juga logo perusahaan tersebut pada tengah-tengahnya huruf O pada urutan kelima dari kata SAMPOERNA Alhasil segala aspek dari perusahaan- sampai produknya dijejali makna kesempurnaan yakni angka 9. Bahkan, pihak PT. HM Sampoerna Tbk. menetapkan jumlah karyawan untuk memproduksi DJI SAM SOE Kretek di SAMPOERNA HOUSE (Surabaya) berjumlah dua ratus tiga puluh empat (234) orang, tidak lebih dan tidak kurang.
Angka 234, jika dijumlahkan dengan mudah kita dapat melihat angka 9 sebagai totalnya (2+3+4=9). Angka 9 menunjukkan arah mata angin: timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara, timur laut, dan tengah. Angka 9 menunjukkan kesempurnaan lubang pada tubuh manusia: lubang mata (2), lubang hidung (2), lubang telinga (2), lubang mulut (1), lubang kemaluan (1), dan lubang anus (1). Angka 9 merupakan angka tertinggi pada hirarki puncak angka dasar, karena setelah angka 9 akan terdiri dari dua angka. Angka 9 merupakan angka tinggi dalam pencapaian nilai ujian tapi tidak terlalu sempurna, karena nilai sempurna adalah 10. Ini dapat diafiliasikan terhadap makna hidup merupakan kedudukan yang tidak terlalu sempurna tapi tetap bernilai tinggi!
Jika kita afiliasikan pada ajaran islam maka, Dji (2) merupakan jasad dan ruh, Sam (3) merupakan islam, iman, dan ihsan, Soe (4) merupakan syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat. Alhasil, 2 + 3 + 4 = 9 adalah pencapaian tertinggi menuju hadirat Allah SWT. Kedudukan yang tidak terlalu sempurna tapi tetap bernilai tinggi di sisi-Nya! Kedudukan Maha Sempurna hanya milik Allah SWT.
Mari lanjutkan pada kata FATSAL-5 pada logo produk 234 itu. Ada beberapa makna penting berkaitan dengan angka 5, baik keagamaan maupun bagi bangsa Indonesia. 

Angka 5 adalah angka yang sangat pancasilais. Orang yang suka dengan angka 5 memiliki semangat patriotisme yang tinggi demi bangsa dan Negara.

Rukun Islam ada 5. Melaksanakan 5 rukun Islam berarti sebuah kesempurnaan. Obat hati ada 5. Senantiasa dengan obat hati yang 5 hatinya sehat. Sholat fardu yang dikerjakan sehari semalam sebanyak 5 waktu. Sholat tiangnya agama, barang siapa meninggalkan sholat maka ia merobohkan agamanya. Pesan Nabi bahwa jaga yang 5 sebelum datang yang 5 yaitu: pergunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu, pergunakan masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, pergunakan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, pergunakanlah waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, dan pergunakan hidupmu sebelum datang matimu.

Di lingkungan penganut spiritual dan di masyarakat jawa terkenal molimo (5M) atau emoh limo yaitu, emoh MAIN (judi, penjudi), emoh MADON (prostitusi, laki-laki & perempuan), emoh MALING (mencuri, rasuah, dll), emoh MADAT (candu, dadah, ubat-ubatan), emoh MABOK (minuman keras, mabuk)

Sedangkan fatsal, atau pasal, atau fashol (arab) bermakna pembatas antara dua hal berbeda, artinya untuk mencapai SAMPOERNA amalkanlah FATSAL 5 itu, bentengi diri dengan FATSAL-5
Semoga bermanfaat.